Pedagang Kembang Api Keluhkan Penjualan Sepi, Bikin Rugi Besar?

Pedagang kembang api di Pasar Asemka tetap berharap pembeli meningkat menjelang malam pergantian tahun. (Tribunnews.com)

Pedagang kembang api di sejumlah pusat perdagangan Jakarta merasakan penurunan penjualan pada akhir tahun 2025. Kondisi tersebut berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang biasanya dipenuhi lonjakan pembeli menjelang pergantian tahun.

Di Pasar Asemka, Jakarta Barat, sejumlah pedagang mengaku omzet penjualan tidak seramai tahun lalu. Sepinya pembeli diduga berkaitan dengan masyarakat yang masih menahan belanja di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Selain itu, kebijakan larangan pesta kembang api juga dinilai turut memengaruhi minat beli.

Seorang pedagang kembang api bernama Iki mengungkapkan bahwa penjualan tahun ini cenderung sepi sejak sepekan terakhir Desember. Padahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya, pembeli mulai ramai berdatangan untuk persiapan malam tahun baru.

Pedagang Kembang Api di Asemka Hadapi Sepinya Pembeli

Iki menjual kembang api dalam bentuk paket berisi lima kotak. Untuk ukuran sedang, ia mematok harga Rp20 ribu per paket, sementara ukuran besar dijual Rp35 ribu per paket. Tahun lalu, penjualannya bisa mencapai lima hingga sepuluh paket per hari. Namun pada akhir 2025 ini, penjualan turun menjadi sekitar dua hingga lima paket per hari.

Selain kembang api, pedagang juga menjajakan petasan banting dan petasan ukuran sedang dengan harga terjangkau. Meski demikian, permintaan tetap tidak setinggi tahun sebelumnya. Para pedagang mengaku tetap bersyukur karena masih ada pembeli meski jumlahnya terbatas.

Menjelang hari terakhir tahun 2025, kondisi penjualan mulai menunjukkan sedikit perbaikan. Beberapa pedagang mencatat adanya peningkatan pembeli dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Harapan pun muncul agar penjualan kembali meningkat saat malam pergantian tahun.

Pedagang kembang api lainnya, Joni, juga merasakan hal serupa. Ia menyebut penjualan tahun ini jauh lebih tipis dibandingkan tahun lalu. Meski demikian, ia tetap berharap momentum malam tahun baru dapat mendongkrak penjualan.

Fenomena sepinya pedagang kembang api mencerminkan perubahan perilaku konsumsi masyarakat. Faktor ekonomi dan kebijakan pemerintah menjadi pertimbangan utama yang memengaruhi aktivitas belanja musiman.

Pedagang kembang api menghadapi tantangan penurunan penjualan pada akhir 2025. Meski pembeli cenderung sepi, para pedagang tetap berharap lonjakan permintaan terjadi saat malam pergantian tahun.

Demikian informasi seputar keluh kesah pedagang kembang api. Untuk berita ekonomi, bisnis dan investasi terkini lainnya hanya di Philippinestuffs.Com.